Presiden Amerika Serikat Donald ↗Trump diklaim terbuka ↗untuk melanjutkan pembicaraan tatap muka ↗dalam waktu dekat dengan Iran untuk mengakhiri ↗konflik di Timur Tengah.
Pembicaraan lanjutan ini direncanakan digelar sebelum masa gencatan senjata berakhir, sebagai upaya mencari kesepakatan baru setelah negosiasi sebelumnya gagal.
"Kami telah dihubungi pagi ini oleh orang-orang yang tepat, dan mereka ingin mencapai kesepakatan," kata Trump di Gedung Putih, dikutip Bloomberg.
Pernyataan itu muncul hanya beberapa jam setelah Angkatan Laut AS memulai blokade di Selat Hormuz untuk membatasi pergerakan kapal dari dan ke Iran.
"Kita tidak bisa membiarkan suatu negara memeras atau mengancam dunia," ujar Trump.
Langkah ini menunjukkan meski tekanan militer meningkat, kedua pihak belum sepenuhnya meninggalkan jalur diplomasi setelah putaran pertama negosiasi di Pakistan gagal mencapai kesepakatan.
Selain itu, upaya AS membuka kembali negosiasi mencerminkan pola lama hubungan kedua negara yang kerap diwarnai strategi tekanan sekaligus diplomasi.
Menurut The New York Times, pendekatan ini dilakukan melalui sanksi, sabotase program nuklir, hingga perundingan.
Dalam negosiasi terbaru, perbedaan utama terletak pada durasi pembatasan program nuklir.
Sementara itu, posisi Trump di dalam negeri disebut semakin berada di posisi yang sulit karena gelombang penolakan dari warga AS terhadap perang dengan Iran.
Banyak warga AS yang marah karena biaya hidup yang melambung tinggi akibat perang. Pensiunan jenderal militer AS Stanley McCrystal dan David Petraeus pun mewanti-wanti, AS butuh segera punya strategi yang tepat keluar dari perang yang semakin "kacau" dan "amat mahal" bagi AS, dikutip dari Press Herald.
Salah satu media bagi Trump yang paling memungkinkan Trump keluar dari perang adalah melalui negosiasi dengan Iran. Dengan cara itu, AS bisa lolos dari jebakan mereka sendiri tanpa ada kesan kuat bahwa Paman Sam sebenarnya kalah perang dari Teheran.

