Kenaikan harga plastik hingga ↗50 persen di beberapa daerah di Indonesia↗, termasuk Surabaya tidak hanya berdampak kepada para pedagang, tetapi juga Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM↗) dan pedagang asongan↗. Mereka yang sebelumnya selalu menggunakan plastik sebagai wadah untuk menyajikan dagangan kepada pembeli, kini mengaku cukup kesulitan dengan kenaikan harga plastik. Seperti yang diungkapkan pedagang es cincau, Nunik (56). Menurut dia, harga gelas plastik sekali pakai yang biasanya dipakainya mengalami kenaikan dari Rp 6.000 menjadi Rp 12.000 per lusin. “Sekarang plastik mahal banget, saya coba cari berbagai ukuran, merek lain, ternyata semuanya naik, dari Rp 6.000 jadi Rp 12.000, ngawur,” ungkap Nunik dengan penuh kekesalan sambil terus melayani pembeli, Rabu (8/4/2026).
Nunik mengatakan, kenaikan itu memaksanya untuk menaikkan harga cincau sebesar Rp 2.000 per gelas demi menutup modal
“Ya mau gimana lagi, kalau pakai bahan lain misal gelas kertas itu juga belum tentu ketahanannya sama kayak plastik, takutnya kan bocor,” katanya. Hal senada disampaikan pedagang kopi keliling, Zainuddin (48). Dia menyebut, kenaikan harga plastik sangat berpengaruh terhadap perhitungan modal dan keuntungan penjualannya. Zainuddin akhirnya harus rela memangkas keuntungan yang awalnya kisaran Rp 3.000 sampai Rp 2.000, kini hanya Rp 1.000. "Dulu saya beli plastik banyak, otomatis karena ada kenaikan, saya belinya sedikit, sesuai dengan modal kita," ujar Zainuddin. Keuntungan itu dipangkas karena dia memilih untuk tetap mempertahankan harga agar pembeli tidak berkurang. "Harga saya usahakan enggak naik, cuma beli plastiknya aja saya kurangi," katanya.
Namun, dia berharap pemerintah dapat menekan harga plastik agar bisa kembali stabil. Sebab, lonjakan harga tersebut sangat memberatkan pelaku usaha kecil. "Semua plastik naik, tapi kalau harga kopi saya naikkan juga, pelanggan saya nanti pada enggak mau beli," pungkasnya.
Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia masih mengandalkan impor plastik dan produk turunannya. Sepanjang Februari 2026, nilai impor plastik mencapai 873,2 juta dollar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp14,84 triliun. Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut bahwa impor tersebut berasal dari sejumlah negara utama.

